0

Musibah demi musibah datang silih berganti menerpa negeri ini. Jumlah kerugian sudah tidak terhitung lagi. Ada kerugian materi dan fisik. Ada pula kerugian psikologis. Apa rahasia di balik semua ini? Apakah ini ujian, laknat, ataukah hanya cara kerja alam mematuhi amanat Tuhan?
Alam dan semua yang terjadi di dalamnya merupakan rentetan kalimat-kalimat walau tidak tersusun dari huruf-huruf, dan tidak pula terangkai dari kata-kata. Di dalamnya sarat dengan isyarat dan penuh dengan ibrah (pelajaran). Setiap mata diharapkan dapat membaca ayat-ayat alam dan menelaah kalimat-kalimat yang beredar di jagat raya. Pun demikian dengan telinga, diharapkan terbuka untuk mendengarkan suara-suara yang menggema di dalamnya.
Masalah penciptaan, hidup dan mati, Allah rumuskan dengan tujuan yang jelas. Allah menegaskan dalam Alquran, ’’Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ’’Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’’ (QS Ali Imron [3]: 190-191)......
..... SELENGKAPNYA>>> Jangan Bersedih

Dikirim pada 06 Oktober 2009 di Agama
16 Jul

Q.4:1:Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
· Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak seorang pun yang lebih sabar mendengar sesuatu yang menyakitkan selain Allah, karena meskipun Allah disekutukan dan dianggap memiliki anak, tetapi Allah tetap memberikan kesehatan dan rezeki kepada mereka. (Shahih Muslim No.5016) ....




.... SELENGKAPNYA

Dikirim pada 16 Juli 2009 di Agama

Zaman reformasi memang mendambakan perubahan dari zaman sebelumnya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW dulu membawa umatnya dari zaman jahiliyah ke zaman pencerahan dan mengentas dari kegelapan. Apakah pemimpin kita sekarang ini sudah mencontoh Rasul itu? ‘Jauh panggang dari api’, begitu pepatah Melayu bertutur. Banyak yang berkhianat, tidak menepati janji, menusuk dari belakang dan istilah sekarang memutar balik fakta dan memelintir opini.
Ini ada kisah Rasul yang berjanji dengan sobatnya bernama Abdullah bin Abdul Haitsma. Kedua insan ini berjanji bertemu di suatu tempat yang sudah ditentukan waktunya. Ternyata Abdullah lalai dan lupa. Tiga hari kemudian ia ingat akan janjinya dengan Rasul. Alangkah kagetnya, ternyata Muhammad SAW masih menunggunya di hari ketiga. Masya Allah…………
Dari kisah itu tampak pesona amanah yang memancar dari nabi kita yang sudah melekat jauh sebelum kenabiannya. Di situ tampak di tengah kaumnya Muhammad SAW membangun budaya jujur, patuh, memenuhi janji, dan bisa dipercaya. Layaknya gelar Al Amin (yang dapat dipercaya) disandangnya.
Setelah kenabian dan kerasulannya diterima dari Allah, sifat-sifat itu tidak hanya menempel pada perilakunya, tapi meluncur dari ujarnya. Ada yang menarik dari sabdanya, “Tunaikanlah amanah terhadap orang yang mengamanatimu dan jangan berkhianat terhadap orang yang mengkhianatimu” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Maka ketika perilaku khianat dan dusta sudah menggurita dari tingkat bawah sampai tingkat atas, sikap amanah menjadi sangat mahal dan langka sekali.

MORE ....

Dikirim pada 16 Juni 2009 di Agama

Oleh: Dr. Yusuf Qardhawi


PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah, kami melantunkan puja-puji, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah SWT maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Shalawat dan salam atasnya, keluarganya, sahabatnya, dan mereka yang melanjutkan dakwahnya, memegang sunnahnya, dan memperjuangkan agamanya, hingga hari kiamat.

Salam hormat yang paling baik, yang aku ucapkan kepada kalian adalah salam Islam, yaitu as-salamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Pembahasan kita pada kesempatan ini adalah seputar permasalahan sunnah dan bid’ah. Hal ini berkaitan dengan sebuah artikel yang diterbitkan oleh sebuah majalah yang diterbitkan di negara kita ini.[1] Artikel itu menyandang judul yang amat nyeleneh, yaitu "Istinkaarul-Bid’ah wa Kuraahatul-Jadiid, Mauqifun Islami am jahili?" Artinya, "Mengingkari Bid’ah dan Membenci Hal yang Baru, Apakah Sikap Islami ataukah Sikap Jahiliah?’ Di situ, si penulis artikel ingin menyampaikan pesan bahwa mengingkari bid’ah adalah suatu sikap jahiliah. Menurutnya, kita tidak boleh mengingkari bid’ah dan harus membiarkan manusia menciptakan apa pun yang dikehendaki oleh inspirasi mereka atau oleh setan mereka, baik setan yang berbentuk manusia maupun jin.

Oleh karena itu, kami ingin mengembalikan masalah ini kepada pokok yang sebenarnya dan kita perlu meredefinisikan (mendefiniskan ulang) pemahaman-pemahaman kita tentang masalah ini karena masalah ini sangat penting. Membiarkan suatu pemahaman tanpa pendefinisian yang jelas akan membuat suatu masalah menjadi seperti karet yang dapat ditarik ulur dan kembali pada keadaan semula, serta membuat setiap orang dapat menafsirkannya sekehendak hatinya. Ini tentunya amat berbahaya.

more ...

lebih lengkap di http://dahlanforum.wordpress.com/2009/05/31/sunnah-dan-bidah/

Dikirim pada 31 Mei 2009 di Agama
Awal « 1 2 » Akhir


connect with ABATASA